Hotel Syari’ah Berpeluang Emas
Rabu, 21 September 2016 (10:05 am) / Ekonomi & Bisnis
booking.com

Indonesia adalah salah satu tujuan wisata idola masyarakat dari berbagai belahan bumi. Banyaknya wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia mencapai 9.4 juta pengunjung pada tahun 2014 (BPS 2015). Terkait hal itu, ternyata jumlah wisatawan tersebut turut pula meningkatkan pertumbuhan kumulatif Produk Domestik Bruto (PDB) menurut lapangan usaha pada bidang hotel rata-rata sebesar 9,83 persen pada tahun 2012 (BPS 2015).
Ini adalah peluang emas untuk meningkatkan  jumlah hotel di Indonesia. Peningkatan jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia dari tahun 2010 sampai tahun 2014 berpengaruh terhadap tingkat hunian (occupancy rate) pada hotel berbintang sebesar 52,56 persen pada tahun 2014 (BPS 2015). Sedangkan peningkatan jumlah wisatawan nusantara (domestic) mampu menghasilkan devisa negara sebesar 213,94 triliun rupiah pada tahun 2014 (BPS 2015).

Berkaitan dengan hal itu, sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, fasilitas, dan infrastuktur pariwisata yang ada Indonesia telah dianggap cukup ramah pada para wisatawan muslim  (Kemen Parekraf, 2013). Menurut BPS 2013 wisatawan mancanegara tahun 2010, dari total 7 juta wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia sebanyak 1,2 juta wisatawan atau sekitar 18 persen merupakan wisatawan muslim yang berpotensi dalam mengembangkan wisata syari’ah. Maka, Hotel syari’ah menjadi sebuah pilihan hunian yang bersifat sementara bagi masyarakat muslim Indonesia dan mancanegara, demikian seperti dilansir oleh Republika (28/7)
Pengelolaan hotel syari’ah tidaklah cukup hanya dengan menjual kehalalan saja. Pengelola hotel harus melakukan inovasi dan penentuan pasar yang jelas. Dalam dunia kompetisi pun, sama seperti hotel konvensional, hotel syari’ah juga mengenal sistem peringkat. Penentuan peringkat ditentukan pengaplikasikan ajaran dan aturan Islam dalam operasional setiap hari. Bila hotel konvensional menyematkan level “bintang”, maka hotel syari’ah menyematkan level “bulan”.

 

Jumlah “bulan” menentukan ranking hotel syari’ah. Hal tersebut diatur sepenuhnya dalam aturan Kementerian Pariwisata RI. Peringkat terendah adalah hotel yang memiliki hanya satu bulan, sedangkan empat bulan berarti hotel syari’ah yang  paling tinggi dalam jajaran rangking.

Selain pemerintah, ada pula elemen non pemerintah yang coba membantu iklim kompetisi dunia perhotelan syari’ah. Salah satunya adalah Media sosial “Crescenting”. Ia punya cara berbeda menentukan peringkat hotel berlabel syari’ah. Nilai utamanya adalah seberapa besar hotel “ramah” terhadap muslim. Misalnya, dengan menyediakan fasilitas kolam renang dan layanan klub olahraga yang terpisah antara lelaki dan perempuan.

Cresenting yang berkantor pusat di Singapura tersebut memberi peringkat 1-7, dengan semakin tinggi rangking maka makin ramah Muslim. Umumnya hotel syari’ah mendapat peringkat lima, hanya sedikit hotel yang mendapat peringkat 7.

Nasir memaparkan, bila makin banyak hotel yang mendapat skala 6 atau 7 maka semakin banyak wisatawan yang datang berkunjung. Skala tersebut ditandai adanya kolam renang terpisah untuk perempuan dan laki-laki. Nasir mengatakan adanya kolam renang dan klub olahraga terpisah akan menarik turis secara alami untuk menginap di hotel tersebut.

Dalam skala dunia , “Dubai jelas menunjukkan peningkatan permintaan pada hotel syari’ah. Permintaannya terus meningkat terutama pada turis yang berasal dari Saudi Arabia,” ungkap Nasir, manager media sosial Crescenting.

Di Indonesia sendiri, Hotel syari’ah hadir sebagai jawaban atas melonjaknya wisatawan Muslim selama 10 tahun belakangan. Ada tambahan hingga 50 juta kalangan menengah Muslim yang berkarakter terpelajar,melek gagdet, dan suka melancong. Mereka inilah yang kemudian menjadi target pasar hotel syari’ah.

Banyak kalangan optimis, pasar dan jumlah hotel syari’ah masih di Indonesia masih akan terus meningkat jumlahnya. Dengan menyentuh pasar paling besar yaitu kalangan umat Muslim, menjadikan pasar hotel syari’ah tak habis digarap.

Menurut Ranti Wiliasih (Staf Pengajar Prodi Ekonomi Syari’ah FEM IPB), merujuk pada ulama, Abdul Wahab Khallaf dalam buku Ilmu Ushul al-Fiqh, setidaknya ada ketentuan Syari’ah berupa larangan yang harus dijauhi dalam hukum mua’amalah, termasuk di dalamnya usaha perhotelan Syari’ah. Yakni semua hal yang berkaitan dengan anasir yang “membahayakan”, “penipuan”,  dan “bersifat meragukan”.

Dengan panduan Usul Fiqh yang terus diperdalam dari prinsip utama tersebut, bisnis perhotelan Syari’ah InsyaAllah akan memperoleh barokah Allah yang semakin bertambah. Yang InsyaAllah juga berarti keuntungan yang berlipat. Market pasarnya merasa nyaman dan tenteram, para pelaku bisnisya pun mendapat buah hasil yang memuaskan. Bisnis Hotel Syari’ah ini akhirnya memang menjadi “Peluang Emas” di seluruh dunia, khususnya juga di Indonesia sebagai negeri mayoritas Muslim.

 

 

Reporter: pry

Redaktur: prayudha

Sumber: halhalal.com/republika.co./harnas.co

Sebarkan Pada Sesama

Copyright © 2011 – 2017 Designed & Developed by Ibrahim Vatih