Bersatunya Umat Islam, Ikrarkan Bersama Risalah Istiqlal !

Selasa, 20 September 2016 (5:15 pm) / Nasional

Ribuan umat muslim Jakarta memenuhi Masjid Istiqlal pada hari Ahad kemarin (18/9) dalam rangka acara Silaturahim Akbar dan  Doa untuk Kepemimpinan Ibukota. Acara yang juga dihadiri oleh beberapa ulama dan tokoh  nasional ini didahului dengan sholat zuhur berjamaah. Adapun para tokoh nasional pecinta NKRI yang datang di Masjid Istiqlal ini diantaranya adalah  ; Ustaz Bachtiar Nasir (Sekjend MIUMI), KH. Muhammad Zaitun Rasmin, Habib Rizieq (Pemimmpin FPI)  dan Prof. Amien Rais (Tokoh Muhammadiyyah) , Ustad. Hidayat Nur Wahid (Mantan Ketua MPR), Prof Dr KH Didin Hafiduddin (Tokoh BAZNAS),, KH Abdul Rasyid AS, Prof Dr Amien Rais, Dr HM Hidayat Nur Wahid, Prof Dr Yusril Ihza Mahendra, Mayjen (Purn) Nachrowi Ramli, KH Fachrurozy Ishaq, KH M Al Khaththath, KH M Zaitun Rasmin, Ustaz Fadzlan Garamatan.

(foto :http://www.antiliberalnews.com)

(foto :http://www.antiliberalnews.com)

Usai sholat zuhur doa bersama juga dilakukan bersama para ulama dan tokoh dengan ribuan muslim di Masjid Istiqlal dan berlanjut dengan istighosah bersama.

Silaturahim Akbar dan Doa untuk Kepemimpinan Ibukota di Masjid Istiqlal akhirnya juga  menelurkan beberapa kesepakatan dalam  “Risalah Istiqlal”. Kesepakatan Risalah Istiqlal itu diharapkan mampu mempererat masyarakat muslim Kota  Jakarta dan calon gubernur DKI Jakarta yang beragama Islam.

Para tokoh menyebut isi risalah ini sebagai kesepakatan para Ulama bersama tokoh muslim dan berbagai elemen masyarakat Jakarta, seperti Bamus Betawi dan Forum RT/RW.

Pada kesempatan itu , salah satu perwakilan ulama, yaitu Ustaz Bachtiar Nasir ditunjuk untuk membacakan rangkaian poin “Risalah Istiqlal” yang dikumandangkan 18 September 2016 kemarin, yaitu;

  1. Pertama, kepada umat Islam agar merapatkan barisan untuk memenangkan pemimpin muslim,
  2. Diserukan kepada seluruh partai pro rakyat agar berupaya maksimal mengusung satu calon gubernur muslim.
  3. Diserukan kepada seluruh umat Islam di Jakarta agar menggunakan hak pilihnya dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 mendatang.
  4. Diserukan kepada umat Islam Jakarta untuk berpegang teguh dengan agamanya dengan hanya menilih calon muslim.
  5. Diserukan kepada kaum muslimin menolak dan melawan semua bentuk suap dan berbagai bentuk money politik, maupun serangan fajar.
  6. Pentingnya partai politik pro rakyat untuk memaksimalkan daya dan melibatkan semua potensi umat untuk memenangkan pasangan cagub dan cawagub yang disepakati umat Islam.
  7. Mengokohkan ukhuwah dan menghindari segala fitnah dan adu domba yang ditujukan kepada calon yang diusung oleh umat Islam.
  8. Mengingatkan kepada seluruh KPUD DKI Jakarta, termasuk RT/RW yang ditugaskan sebagai KPPS untuk mengawasi jalannya Pilkada DKI agar terwujud Pilkada yang jujur dan adil.
  9. Menghimbau kepada partai yang mengusung calon non-muslim untuk mencabut dukungannya, apabila tidak mengindahkan dukungan itu maka diserukan kepada umat untuk tidak memilih partai tersebut

Ustaz Bachtiar yang juga menjabat sebagai  Sekretaris Jenderal  Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), menegaskan kembali bahwa saat ini belum ada kandidat yang diusung untuk saat ini, karena akan ada kesepakatan dengan komunikasi dengan semua partai selain pendukung pertahana (pejawat) agar kriteria yang disepakati dengan calon yang diusung bisa mencapai titik temu, demikian ucap beliau seperti dikutip oleh Republika (18/9/2016).

Keresahan terhadap pola kepimpinan Gubernur Jakarta petahana saat ini memang menjadi salah satu latar belakang munculnya respon kuat dari masyarakat Jakarta, terutama masyarakat muslim. Bahkan melihat pola komunikasinya dengan rakyat dan berbagai kalangan yang sangat arogan, ada pula elemen lain ikut merespon.

Bulan Maret tahun 2015 lalu ada tokoh nasional keturunan Tionghoa Nasrani bernama Phoa Kok Tjiang (terkenal dengan nama; Jaya Suprana) melayangkan surat terbuka untuk Zhōng Wànxué alias Ahok. Surat ini sengaja ditulis karena Jaya Suprana merasa gelisah dirinya melihat arogansi Ahok.

Ia mengingatkan kepada Ahok bahwa banyak warga keturunan Tionghoa yang mengalami ketakutan akibat prilaku kasar dan tidak sopan Ahok dalam bertutur. Demikian disampaikan oleh Jaya seperti dikutip Islamedia (25/8/15)

Cendekiawan, rohaniwan, akademikus bukan politikus yang semula mendukung Anda kini mulai meragukan dukungan mereka terhadap Anda” ungkap Jaya Suprana dalam salah satu paragraf di surat terbukanya.

 

Kerusuhan etnis yang pernah terjadi juga menjadi perhatian Jaya Suprana yang ditulis dalam surat terbukanya. Jaya Suprana menyampaikan bahwa kerusuhan yang menimpa etnis Tionghoa banyak disebabkan karena beberapa insan keturunan Tionghoa bersikap dan berperilaku layak dibenci maka beberapa titik nila merusak susu sebelanga.Yaitu para saudaranya yang lain yang telah berhasil berintegrasi dengan masyarakat pribumi.

Masalah pola  kepemimpinan Jakarta, memang bukan masalah bagi umat muslim saja. Namun juga menjadi masalah semua elemen masyarakat yang mendambakan hidup harmoni dan jauh dari permusuhan. (pry)

Reporter: Prayudha

Redaktur: prayudha

Sumber: republika.co.id. , antiliberalnews, islamedia.

Sebarkan Pada Sesama

Copyright © 2011 – 2017 Designed & Developed by Ibrahim Vatih