“Belanda & Eropa Tersentuh Zaman, Merasakan Tsunami Dakwah Islam”

Selasa, 20 September 2016 (9:38 pm) / Bumi Islam

muslimah-inggirs-mab-demo-hijab

Eropa saat ini dilanda gejala pergeseran sosial  yang signifikan di bidang agama. Sebuah ironi, ketika ancaman Islamofobia meningkat, dunia disodorkan fakta bahwa Islam muncul sebagai agama yang semakin berkembang di negara-negara  yang dahulunya menjadi basis agama Kristen. Banyak tempat ibadah Kristen kini berubah menjadi Islamic Center.

 

Situs Israelnationalnews.com  pada sebuah artikelnya memaparkan bahwa sebuah gereja Katolik di Inggris telah dijual pada kaum Muslim. Begitu pula gereja Katolik St Petrus di Cobridge akan menjadi Masjid Madina.

Penjualan Gereja tersebut merupakan akibat dari makin terjadinya penurunan jumlah jemaat yang menghadiri gereja secara drastis. Keuskupan agung melalui juru bicaranya menyatakan bahwa

“.. belakangan ini, jumlah jemaat Katolik semakin menyusut hingga pada kondisi tertentu mereka yang menghadiri Misa di Basilika Santo Petrus tidak lagi mampu mempertahankan keberadaan Imam/Pendeta mereka juga bangunan gereja.”

Fakta ini setidaknya mulai menunjukkan bahwa Islam kini bisa menjadi alternatif jalan hidup menggantikan agama Kristen yang selama ini menjadi agama dominan di Eropa. .

Data dari Senat Prancis menunjukkan bahwa sebanyak 2.800 bangunan keagamaan Kristen sekarang beresiko untuk dibongkar. Prancis kini hanya memiliki 9.000 pendeta jika dibandingkan dengan 40.000 imam selama perang terakhir negara itu. Dan banyak gereja-gereja berubah alih dengan masjid.

Fakta unik lain menyatakan bahwa ternyata Federasi Nasional Masjid Agung Paris, Dewan Muslim Demokratik Prancis dan Banlieue Collectif meminta Gereja Katolik, dalam semangat “solidaritas antar-agama”, untuk menyewakan gereja-gereja kosong mereka kepada umat Islam untuk dipakai shalat Jumat.

Dari laporan di majalah Spirit, dalam dua tahun ke depan 15.000 dari 45.000 gereja yang ada di Jerman, sepertiga dari total semuanya, akan dibongkar atau dijual.

Penjualan gereja ini bukan perhitungan masalah ekonomi. Gereja-gereja ditutup karena kosong dari jemaatnya. Ini adalah fenomena “Konfessionslos”, yaitu Jerman tanpa agama. Bahkan diperkirakan bahwa setiap 75 detik seorang warga Jerman meninggalkan gereja.

Tak berbeda jauh dengan Jerman,  di Belanda dua bangunan Kristen ditutup setiap minggunya. “Di Belanda, kehadiran umat Katolik pada hari Minggu adalah yang tertinggi di Eropa, hingga sembilan puluh persen”, kata Pdt Jan Stuyt dari Nijmegen. “Namun sekarang hanya sepuluh persen” demikian seperti dilansir israelnationalnews.

Tiap tahun ada enam puluh tempat ibadah ditutup, dijual atau dihancurkan. Antara 1970 hingga 2008, 205 gereja Katolik dihancurkan di Belanda dan 148 dikonversi menjadi perpustakaan, restoran, pusat kebugaran, apartemen dan masjid. Kementerian Kebudayaan Belanda bahkan telah menyusun pedoman untuk berurusan dengan konversi gereja bekas atau ditinggalkan.

Gereja Protestan Belanda kehilangan 60.000 jamaahnya setiap tahun. Pada tingkat ini, jemaat gereja akan punah pada tahun 2050, menurut pejabat gereja di negara tersebut. Memang makin meyakinkan bahwa Islam di benua biru Eropa sedang mengalami pertumbuhan yang signifikan.

Hal tersebut senada dengan paparan Ketua Komisi Dakwah Dan Pengembangan Masyarakat MUI Pusat, KH. Muhammad Cholil Nafis. Kepada Republika (20/9), beliau  menceritakan pengalaman berdakwah di negeri yang pernah menjajah Indonesia ini lebih dari satu abad lamanya, negeri Kincir Angin; Belanda.

Saat ia hidup disana, Kiai Cholil merasakan kehidupan yang berbeda dengan kehidupan di Indonesia. Utamanya dari pola hidup kebersihan dan kedisiplinan warga negaranya. Lingkungan yang bersih dan taman binatang yang hidup bebas.

Beliau juga bertutur cerita menarik tentang penerimaan warga Belanda dengan Muslim Indonesia. Antara lain pengalaman kisah nyata dari Masjid Indonesia Al Hikmah di Den Haag. Awalnya, masjid itu adalah bangunan Gereja. Lalu akan dibeli oleh komunitas Turki dan juga masyarakat Indonesia. “Namun pemiliknya lebih senang menjual tanah dan bangunan Gereja kepada masyarakat Indonesia, karena suka dengan kebudayaan Indonesia yang sering ditampilkan di Den Haag,” kata beliau.

Menurut Cholil, banyak hal yang dirasakan warga negara Indonesia mengenai kedekatan antarwarganya.
Mereka terkesan lebih akrab dengan warga Indonesia, bahkan sangat senang dengan tradisi, seni dan kebudayaan Indonesia,” ungkap Kiai Cholil kepada Republika.co.id, Selasa (20/9).

Ia memaparkan , dari 100 persen penduduk Belanda (berjumlah sekitar 17 jutaan), 55 persennya adalah ateis, dan  kini sekitar 10 persennya memeluk Islam. Prosentase selanjutnya merupakan dari campuran dari keyakinan yang lain.

Kerelaan masyarakat Belanda untuk melepaskan keyakinannya dan memeluk agama Islam antara lain  karena menyukai tradisi dan budaya masyarakat Indonesia. Banyak masyarakat Belanda yang telah meyakini Islam, memilih untuk ikrar syahadat di Masjid Indonesia. Belanda hari-hari ini sedang memimpin angka perkembangan Islam di Eropa.

Inilah kini, Belanda dan Eropa umumnya, sedang merasakan gelomban Tsunami Da’wah Islam.

Reporter: pry

Redaktur: prayudha

Sumber: islampos, israelnatonalnews, republika

Sebarkan Pada Sesama

Copyright © 2011 – 2017 Designed & Developed by Ibrahim Vatih