Perdebatan Soal Kebiri,  Anggota DPR : Menteri Kesehatan Yang Paling Tepat Memberikan Penjelasan
Kamis, 2 Juni 2016 (4:30 am) / Hukum & Kriminal, Nasional
Perdebatan Soal Hukuman Kebiri ( Sumber Gambar BBC )

Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Salah satu hal yang diatur dalam peraturan itu adalah kebiri sebagai hukuman tambahan bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak. Namun, kini banyak terjadi perdebatan Baik di masyarakat, kalangan profesional, ataupun pihak eksekutif Tentang keeektifan hukuman kebiri tersebut

Anggota Komisi IX DPR Saleh Partaonan Daulay meminta perdebatan tentang hukuman tambahan berupa kebiri kepada para pelaku kejahatan seksual terhadap anak segera dihentikan agar tidak menimbulkan kontroversi lebih lanjut.

“Pemerintah perlu memberikan penjelasan secara luas dan terbuka kepada publik. Karena yang dipersoalkan banyak berkaitan dengan kesehatan, maka Menteri Kesehatan paling tepat memberikan pejelasan,” kata Saleh, Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta, Rabu.

Namun, Saleh menilai Menteri Kesehatan Nila F Moeloek terkesan menghindar saat ditanya tentang hukuman kebiri bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak. Kesan itu terlihat dalam rapat kerja antara Komisi IX dengan Menteri Kesehatan di DPR.

“Selama ini yang banyak dipertanyakan adalah mekanisme penyuntikan, siapa yang akan mengeksekusi, apakah kebiri efektif menghentikan kekerasan seksual dan lain-lain, yang sebenarnya masih ke dalam ranah Kementerian Kesehatan. Namun, Menkes malah agak sedikit menghindar,” tuturnya. Demikian Di Lansir dari Antaranews.

Sebelumnya, Komnas Perempuan menyampaikan data bahwa kekerasan terhadap perempuan di Indonesia pada 2015 meningkat dari tahun sebelumnya. Di mana sebelumnya kekerasan seksual menempati peringkat ketiga, kemudian pada tahun berikutnya kekerasan seksual naik ke peringkat kedua. Bentuk kekerasan seksual tertinggi adalah perkosaan (72% atau 2.399 kasus), pencabulan (18% atau 601 kasus), dan pelecehan seksual (5% atau 166 kasus).

 

Redaktur: Abu Taqi

Sebarkan Pada Sesama

Copyright © 2011 – 2017 Designed & Developed by Ibrahim Vatih