Seperti Ini Perpustakaan yang Terbuat dari 2.000 Ember Bekas Es Krim di Bandung
Minggu, 6 September 2015 (9:50 am) / Sekolah & Kampus
Perpustakaan unik di Bandung (Detik)

Bandung terus berbenah untuk mempercantik diri. Salah satunya dengan pembuatan perpustakaan unik yang dirancang dengan sekitar 2000 ember bekas es krim. Perpustakaan tersebut berada di Jalan Bima, Kelurahan Arjuna, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung.

Ide untuk membuat perpustakaan dari ember bekas es krim itu datang dari Daliana Suryawinata dan Florian Heinzelmann (SHAU Architecture).

“(Bangunan itu) Dirancang agar desain itu bisa bermanfaat. Untuk itu kita coba memakai barang bekas yang bisa di upcycling supaya jadi nilai tambah dan menarik,” jelas Daliana pada Sabtu (5/9/2015) lansir Detik.

Bangunan dengan luas sekitar 100 meter persegi itu pun didirikan dalam waktu 3 bulan. Untuk dana pembangunan yang dihabiskan mencapai Rp 520 juta yang berasal dari donasi Dompet Dhuafa.

Daliana menjelaskan, sebenarnya pembuatan perpustakaan mikro ini bisa lebih cepat rampung. Namun terkendala karena untuk mengumpulkan 2.000 ember bekas es krim tidak mudah.

“Pembangunannya lama karena menunggu ember-ember es krim ini dulu terkumpul. Ini unik dan baru pertama di dunia,” tuturnya.

Dengan bentuk bangunan yang terkesan bolong-bolong ini, aktivitas di dalamnya pun bisa terlihat dari luar. Pun sirkulasi udara jadi lebih baik.

“Rongga di ember es krim memberikan sirkulasi udara dan juga pencahayaan difuse light. Jadi enggak hanya indah dilihat, bangunan ini juga bisa performatif secara energi dan secara cahaya. Tidak perlu pakai AC lagi karena sirkulasi udaranya lewat lubang-lubang ember es krim,” jelas Daliana.

Tidak hanya sebagai perpustakaan, namun tempat tersebut bisa digunakan untuk area pentas kecil-kecilan.

“Bangunan diangkat keatas agar menyediakan ruang di bawah untuk kegiatan multifungsi,” ujar Daliana.

Pada Sabtu (5/9/2015), perpustakaan tersebut diresmikan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil. Ia mentargetkan bandung menjadi kota buku. Di tahun 2017, diharapkan terdapat 150 perpustakaan mikro di Bandung.

“Target 2017 ini kan Bandung menjadi kota buku. Agendanya adalah memperbanyak budaya baca yang disebar dengab konsep desentralisasi. Bukan satu perpustakaan besar tapi kecil-kecil tapi banyak dan dibangun dengan arsitektur yang menarik,” ujar Ridwan Kamil.

Dengan begitu diharapkan nantinya anak Bandung bisa makin cerdas dengan membaca. “Jadi waktunya tidak habis liatin gadget saja, tapi mereka kesini membaca dan berkegiatan,” tuturnya.

Redaktur: Idris

Sebarkan Pada Sesama

Copyright © 2011 – 2017 Designed & Developed by Ibrahim Vatih