Al Azhar, Kristen, Salafi, dan Liberal Dukung Kudeta Militer di Mesir

Kamis, 4 Juli 2013 (7:16 am) / Bumi Islam

Syaikh Al Azhar Ahmad Ath Thayyib dan Paus Koptik Twadharos II menyatakan dukungannya pada peta jalan yang diumumkan oleh Militer Mesir yang mengkudeta Presiden Muhammad Mursi. Ketua Partai Konstitusi Muhammad El-Baradei menganggap tindakan militer sebagai penyelamatan Revolusi 25 Januari 2011. Sementara itu, partai berhaluan Salafi, Partai An Nur menyatakan setuju dengan langkah militer yang membekukan konstitusi sehingga negara dapat terhindar dari konflik.

Sementara itu, Partai Kebebasan dan Keadilan yang lahir dari rahim Jamaah Ikhwanul Muslimin menganggap tindakan militer sebagai kudeta terhadap legilatas konstitusional.

Sheikh Al-Azhar mengatakan, ia mendukung pendapat yang disepakati oleh seluruh yang hadir dalam pertemuan, untuk melaksanakan pemilu presiden di mana rakyat bebas memimilih dengan adil.

Di sisi lain, Paus Koptik Twadharos mengatakan bahwa roadmap disusun dengan ketulusan nasional dan ditetapkan oleh orang-orang yang memiliki tujuan nasional, dan bertujuan untuk menyelesaikan situasi terkini, ia juga menyenjelaskan bahwa roadmap memberikan pandangan politik dan memberikan jaminan bagi seluruh rakyat Mesir.

Adapun El-Baradei ia menjelaskan bahwa roadmap merefresentasikan titik tolak baru bagi revolusi 25 Januari 2011, meluruskan jalannya, dan bahwa roadmap tersebet memenuhi tuntutan pokok rakyat untuk melaksanakan pemilu presiden.

Partai An Nur yang berhaluan Salafi dan sebelumnya menjadi pendukung Presiden Mursi kali ini mendukung kudeta militer.

“Kami mengambil posisi ini dan kami mengambil keputusan ini karena kami ingin menghentikan pertumpahan darah rakyat kita,” kata Galal Murrah, sekretaris jenderal Partai An Nur dalam siaran televisi.

Tanggapan berbeda datang dari petinggi Partai Kebebasan dan Keadilan Muhammad Baltagie, bahwa apa yang terjadi saat ini di Mesir adalah kudeta terhadap legalitas konstitusi, ia juga mengatakan bahwa tank-tank militer mengepung demonstran di bundaran Rabeah Al-Adaweah, dimana massa pendukung Presiden Muhammad Mursi berkumpul, Baltagie menganggap tindakan militer sebagai penghianatan besar dan kudeta atas presiden terpilih secara demokrasi.

Redaktur: Shabra Syatila

Copyright © 2011 – 2014