Syi’ah di Indonesia adalah Rafidhah, Bukan Mu’tadilah

Selasa, 18 Juni 2013 (7:29 am) / Olahraga

Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI), Al-Habib Muhammad Rizieq bin Husain Syihab Asy-Syafi’i kembali mempertegas bahwa FPI anti aliran sesat Syiah dan menyatakan bahwa semua Syiah adalah sesat.

Pembagian Kelompok Syi’ah

Seperti diketahui, FPI membagi Syiah menjadi tiga bagian;

Pertama, Syiah Ghulat yaitu Syiah yang menuhankan Ali ibn Abi Thalib atau meyakini Al-Qur’an sudah di-tahrif (dirubah/ditambah/dikurangi) dan sebagainya dari berbagai keyakinan yang sudah menyimpang dari ushuluddin yang disepakati semua madzhab Islam. Syiah golongan ini adalah kafir dan wajib diperangi.

Kedua, Syiah Rafidhah yaitu Syiah yang tidak berkeyakinan seperti Ghulat, tapi melakukan penghinaan/penistaan/pelecehan secara terbuka baik lisan atau pun tulisan terhadap para Sahabat Nabi SAW seperti Abu Bakar dan Umar atau terhadap para isteri Nabi SAW seperti ‘Aisyah dan Hafshah. Syiah golongan ini ulama sepakat bahwa mereka adalah ahlul bida’ wal ahwa (ahli bid’ah) mereka sesat menyesatkan dan tetap harus diperangi.

Ketiga, Syiah Mu’tadilah yaitu Syiah yang tidak menuhankan Ali dan tidak menghalalkan mencaci maki sahabat, seperti yang dilakukan oleh Syiah Zaidiyah. Mereka diperangi pemikirannya melalui dialog.

Pembagian ini menurut Habib Rizieq diperlukan agar menjadi kejelasan bagi kaum Muslimin pada umumnya dan khususnya kepada anggota FPI bagaimana seharusnya menyikapi aliran sesat Syiah.

“FPI tidak sendirian dan FPI bukan pemula (dalam membagi Syiah, red.). Pembagian ini bagi Ormas FPI sangat diperlukan supaya sikap FPI jelas ke bawah dalam memandang Syiah; mana Syiah yang mesti diperangi seperti Ghulat dan Rafidhah serta mana Syiah yang harus diselesaikan dengan dialog Al-hujjah bil hujjah, Al-Aqwal bil Aqwal,” kata Habib Rizieq di Markas Syariah FPI, Petamburan, Jakarta Pusat, Selasa (11/6/2013).

Semua Syi’ah Tersebut Sesat

Habib Rizieq pun menyampaikan bahwa pembagian Syiah tersebut bukan untuk dibenarkan, bahkan ia mempertegas semua Syiah adalah sesat meski Syiah Mu’tadilah sekalipun.

“Intinya FPI bukan Syiah dan FPI tetap anti Syiah. Syiah yang manapun apakah itu Ghulat, Rafidhah atau Mu’tadilah semua pendapatnya tidak kami terima, hanya kami membedakan mereka di dalam perlakuan bukan untuk dibenarkan. Nah ini yang perlu saya klarifikasi, jadi jangan ada yang menganggap jika FPI membagi Syiah menjadi tiga lalu yang ketiga dibenarkan, terus yang ketiga ini dibela oleh FPI. FPI bukan pembela Syiah!” tegasnya.

Ia juga sepakat bahwa penyebaran aliran sesat Syiah di Indonesia harus dihalangi, sebab Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim Ahlus Sunnah wal Jamaah.

“Kita sepakat bahwa penyebaran Syiah di Indonesia harus diantisipasi, harus kita halangi, tidak boleh yang manapun kelompoknya, termasuk yang mu’tadil sekalipun tidak boleh mereka sebarluaskan aqidah mereka di Negara Republik Indonesia yang notabene adalah negara bagi Ahlus Sunnah wal Jamaah,” tandasnya.

Syi’ah di Indonesia adalah Rafidhah

Menurut ustadz Fahmi, pembagian Syiah yang ketiga, yakni Syiah mu’tadilah ini memang menjadi permasalahan. Sebab dalam beberapa kitab yang ditulis para masyayikh tidak disebutkan kata-kata Syiah Mu’tadilah, namun spesifik kepada Syiah Zaidiyah.

‘Ala kulli hal, dalam persoalan ini pembagian Syiah memang yang menjadi musykil (masalah, red.) itu ada kata moderat (Syiah Mu’tadilah). Karena dalam beberapa kitab yang ditulis oleh Syaikh Ali Ash-Shalabi, kemudian dalam kitabnya Ali Ahmad Ats Tsaluts itu memang tidak disebutkan kata-kata mu’tadilah, tapi yang disebutkan adalah Syiah Ghulat, Syiah Rafidhah dan Syiah Zaidiyah,” kata ustadz Fahmi Salim di Markas Syariah FPI, Petamburan, Jakarta Pusat, Selasa (11/6/2013).

Dengan adanya pembagian kelompok Syiah Mu’tadilah (moderat) maka para penganut Syiah di negeri ini sepertinya menginginkan agar mereka dimasukkan ke dalam kelompok ketiga tersebut.

“Syiah-syiah yang ada di sini ingin dimasukkan ke dalam kelompok yang moderat itu. Dan mereka mengidentikkan itu, nah ini yang berbahaya,” ungkap ustadz muda yang menjabat Wakil Sekjen MIUMI itu.

Untuk mengidentifikasi alian sesat Syiah di Indonesia, menurut ustadz Fahmi bisa dilihat dari buku-buku yang ditulis dan kitab-kitab mereka.

“Kalau kita ingin menukik, siapa sebenarnya kelompok Syiah yang ada di Indonesia, kan sudah jelas buku-bukunya Jalaludin Rahmat, kemudian kitab-kitab yang mereka pakai baik IJABI maupun Ahlul Bait Indonesia (ABI) itu semua patronasenya adalah ICC, lalu ICC itu ke Iran, pakai konsepnya wilayatul faqih, konsepnya Imamah yang mengkafirkan sahabat, itu jelas Rafidhah,” jelasnya.

Kemudian, untuk memberikan panduan kepada umat Islam tentang aliran sesat Syiah, MUI telah berencana untuk membuat buku mengenai penyimpangan Syiah.

“Perlu juga kita memberikan guidance kepada umat, bahwa Syiah yang di Indonesia ini apakah dia dikategorikan Zaidiyah atau Rafidhah, itu perlu. Inilah yang kita usahakan di MUI, kita mencoba menulis buku panduan mengenal dan mewaspadai penyimpangan Syiah,” tuturnya.

Ustadz Fahmi pun menegaskan bahwa berdasarkan kajian yang telah dilakukan ternyata Syiah yang berkembang di negeri ini adalah Syiah Rafidhah sebagaimana yang berkembang di Iran.

“Jadi ada linknya, itu ketemu antara ajaran yang dikembangkan di Indonesia dengan tokoh-tokoh Syiah yang kita tahu, dari ajaran yang sering kita dengar. Karena kita tidak ingin menilai Syiah itu dari perilakunya, kalau dari perilakunya taqiyah, susah. Tapi dari ajarannya langsung, dari kitab-kitabnya, sumber-sumbernya yang asli, dan ternyata link dan match itu ketemu bahwa yang dikembangkan di sini adalah Rafidhah,” tutupnya.

Redaktur: Shabra Syatila

Copyright © 2011 – 2014 Designed & Developed by Ibrahim Vatih