Adian Husaini Luncurkan Buku Baru, Kritik Kurikulum Sejarah Indonesia

Kamis, 7 Februari 2013 (3:15 pm) / Nasional

Salah seorang intelektual Muslim Indonesia, Dr. Adian Husaini baru-baru ini meluncurkan buku baru. Buah pena terbarunya tersebut berjudul “Pendidikan Islam: Membentuk Manusia Berkarakter dan Beradab”.

Adian menjelaskan, dalam buku terbarunya, kurikulum pendidikan di Indonesia saat ini perlu segera dibenahi. Termasuk beberapa aspek dalam Pendidikan Islam, terutama kurikulum sejarah. Kurikulum sejarah Indonesia yang jujur mesti diajarkan kepada para siswa. Saat ini, banyak siswa di Indonesia yang justru mengeluhkan pelajaran sejarah, dan tidak bangga akan sejarah itu sendiri.

Sebagai contoh, Adian mengkritik sejarah perang Pangeran Diponegoro. Dalam buku-buku sejarah yang banyak ditemui, Pangeran Diponegoro berperang karena alasan penjajah yang merebut tanah leluhurnya, atau iri karena tahta Mataram jatuh ke tangan adiknya.

“Diponegoro berperang dengan niat jihad melawan tentara Belanda yang mendholimi rakyat, dan menghalang-halangi pelaksanaan syariat Islam di Jawa. Saat itu dalam menghadapi Belanda, Diponegoro dibantu 108 Kyai, 31 Haji, 15 Syaikh, 12 Penghulu Yogyakarta, dan 4 Kyai Guru yang turut berperang bersama Diponegoro,” terangnya.

Perang Diponegoro ini merupakan perang yang paling menyita keuangan kolonial Belanda. Bahkan, akibat perlawanan Diponegoro ini, Belanda hampir bangkrut. Sebanyak 8.000 jiwa melayang dalam perang Diponegoro, dengan 7.000 di antaranya dari pihak Belanda. Perang ini memakan biaya hingga 20 juta gulden, dan turut memakan korban dari rakyat pribumi.

“Total orang Jawa yang meninggal, baik jelata maupun pengikut Diponegoro 200.000 orang. Padahal total penduduk Hindia-Belanda waktu itu baru 7 juta orang, separuh penduduk Yogyakarta terbunuh,” tutur Adian.

Dalam buku terbarunya, Adian menekankan pentingnya pelajaran sejarah dalam kehidupan manusia. Untuk melihat masa depan, seseorang perlu memahami masa lalunya. Al Qur’an sendiri banyak memuat berbagai cerita umat terdahulu, agar umat Islam dapat mengambil hikmah dan pelajarannya untuk menghadapi hari depan.

“Maka, jangan heran, jika setiap bangsa senantiasa merumuskan sejarah masa lalunya. Sejarah juga sangat penting bagi kebangkitan suatu bangsa atau peradaban. Muhammad Asad (Leopold Weiss) dalam bukunya, Islam at the Crossroads, menulis, ‘No civilization can prosper – or even exist, after having lost this pride and the connection with it’s own past…‘ (tidak ada peradaban yang berjaya, bahkan eksis, setelah mereka kehilangan kebanggaan dan keterkaitan dengan masa lalunya),” papar Adian.

Menurut Adian, anak-anak Indonesia sejak kecil sudah dicekoki paham yang salah. Bahwa Indonesia dulu mengalami kejayaan saat masa Majapahit, namun kemudian hancur setelah Islam menyerang. Seakan-akan Islam adalah faktor yang menghancurkan kejayaan Nusantara. Persepsi semacam inilah yang harus dihapus.

Inilah yang disebut M. Natsir, mantan Perdana Menteri Indonesia zaman RIS, sebagai upaya nativisasi. Yaitu upaya penyingkiran Islam dari aspek kemasyarakatan dan kenegaraan. Dan berusaha mengembalikan Indonesia kepada budaya “asli” yang bercorak Hindu, Budha, dan animisme.

Redaktur: R.S. Permana

Copyright © 2011 – 2014