Kontroversi Tokoh Islam Mali, Intervensi Militer Asing Untuk Melawan Militan

Kamis, 24 Januari 2013 (1:56 pm) / Internasional

Intervensi militer Perancis di Mali menimbulkan kontroversi di kalangan tokoh umat Islam Arab. Namun, berbeda dengan tokoh Islam di Mali. Mereka justru menyambut baik intervensi militer tersebut sebagai upaya memerangi para militan Islam di negeri Afrika Barat tersebut.

“Intervensi Perancis di Mali tak ada hubungannya dengan perang melawan Islam,” kata Mohamoud Dicko, kepala badan Dewan Tinggi Islam Mali kepada para wartawan, seperti dilansir Sydney Morning Herald, Rabu (23/1). “Itu perang melawan kejahatan dan terorisme,” imbuhnya.

Serangan udara mulai dilancarkan oleh militer Perancis ke wilayah Mali utara pada 11 Januari lalu. Serangan itu diklaim untuk membantu militer Mali dalam upayanya mengalahkan para militan Islam.

Semenjak intervensi militer tersebut, pasukan Mali telah berhasil merebut kembali kota Diabaly dan Douentza pada Selasa (22/1) kemarin. Sebelumnya kota Konna juga telah direngkuh pada tanggal 18 Januari lalu, berkat bantuan militer Perancis dan Pasukan Afrika yang berjumlah sekitar 5.500 tentara.

Saat ini sejumlah pasukan Inggris juga telah berada di Mali untuk berkoordinasi dengan militer Perancis. Pasukan khusus Inggris itu ditempatkan dengan misi terbatas untuk dukungan para komandan Perancis, tidak di tempatkan di medan perang.

Sedangkan pihak Amerika Serikat (AS) menolak ikut dalam intervensi militer tersebut. Namun, AS siap memberi dukungan dana, logistik, obat-obatan, dan transportasi bila diminta.

“Kami punya banyak kapasitas untuk memberi dukungan,” ujar Duta Besar AS untuk Uni-Afrika, Michael Battle. “Ketidak stabilan di Mali mengancam wilayah yang lebih luas, khususnya Niger dan Aljazair. Perdamaian dan stabilitas mereka tergantung pada stabilitas dan bagusnya pemerintahan di Mali,” tandasnya.

Redaktur: R.S. Permana

Copyright © 2011 – 2014