Darko Vojinovic/AP

Savo Duvnjak melihat sekeliling ruangan, mengangkat tongkat bisbol, lalu memukuli semua benda yang ada di ruangan itu. Tempat tidur, meja, rak, kursi remuk tak bersisa.

Jangan salah sangka dulu. Ini bukan tindakan kriminal. Tetapi ini adalah Rage Room di Serbia. “Saya merasa lebih baik! Saya merasa telah melepaskan semua energi negatif saya,” ujar Duvnjak setelah masuk ke Rage Room.

Rage Room pertama kali dibuka pada bulan Oktober 2012, di kota Novi Sad, sebelah utara Serbia. Rage Room ternyata menarik animo banyak orang di negara Balkan tersebut, yang dalam dua dekade ini terjebak dalam perang, krisis politik dan kesulitan ekonomi.

  • Plus 4.000 artikel Islami, 6.000 kitab, serta nasyid walimah & jihad.
    digitalhuda.com/?f1
  • Jual Jaket Motor Respiro Anti Angin dan Anti Air Cocok dipakai Harian maupun Touring
    www.JaketRespiro.com
  • Peluang Usaha Sambil Ibadah, Perwakilan Biro Umrah-Haji Plus dan Raih Reward Ratusan Juta Rupiah.
    www.rumahhajidanumrah.com
  • Sedia Baju Hamil, Baju Menyusui, Celana Hamil, Bra Menyusui, Nursing Pillow, Nursing Apron, dll.
    www.hamil-menyusui.com
  • Pusat Belanja Buku Islam Online Lengkap Dan Murni.
    tokopedia.com/tokobukumuslim
  • Film Rasulullah Muhammad SAW, Umar bin Khattab, Nabi Yusuf, Konspirasi Dajjal Akhir Zaman.
    rubystore.wordpress.com/

Rage Room diprakarsai oleh dua orang remaja asal Serbia, setelah mereka terinspirasi setelah melihat Anger Room di Dallas, Texas, secara online. “Paling tidak ada satu pelanggan per hari, cukup untuk membuat kami tetap buka,” ujar Nikola Pausic, remaja berusia 18 tahun yang mengelola Rage Room bersama temannya.

Tempat yang digunakan Rage Room adalah sebuah garasi bekas. Untuk setiap sesi disediakan waktu 5 menit, dan pelanggan harus membayar sekitar Rp. 58.000. Biaya itu senilai dengan paket menghancurkan kursi, meja, tempat tidur, rak dan barang-barang seperti foto berbingkai, kaleng kosong, dan wadah plastik.

Selama berada di Rage Room, pelanggan diharuskan mengenakan helm, kacamata pelindung, dan sarung tangan. Setelah itu, pelanggan bisa bersantai mendengarkan musik, sementara ruangan dibersihkan oleh staf Rage Room. “Puluhan orang datang ke tempat ini, dari segala usia, termasuk juga wanita,” ujar Pausic.

Meskipun ini merupakan sarana mudah melepaskan amarah, namun para ahli jiwa tetap memperingatkan bahwa proyek-proyek semacam itu tidak bisa jadi pengganti terapi kemarahan.


Redaktur: R.S. Permana

Sebarkan pada dunia: KLIK DI SINI