Dr. Pervez Hoodbhoy: Peradaban Islam Jatuh Akibat Hilangnya Sikap Kritis Ilmuwan Islam

Jumat, 18 Januari 2013 (7:09 pm) / Internasional

Sejarah mencatat, para Ilmuwan Islam terdahulu memiliki rasa ingin tahu tinggi yang kemudian mendorong kualitas ilmu pengetahun saat ini. Kualitas inilah yang hilang dalam karakter ilmuwan Islam abad modern ini.

Dr. Pervez Hoodbhoy, mengungkapkan hal tersebut saat berbicara di Universitas Aga Khan, London, Inggris. “Ilmu pengetahuan tidak hanya terkait dengan satu orang atau satu bagian di dunia. Peradaban Islam menyempurnakan peradaban Yunani yang selanjutnya diteruskan peradaban Eropa, itulah kontribusi peradaban Islam,” ungkapnya seperti dikutip The Express Tribune, Kamis (17/1).

Saat pusat intelektual kekaisaran Persia, Gundeshapur jatuh ke tentara Islam di abad ke-7, ditemukan naskah Yunani. Saat itu ada rasa keingin-tahuan yang besar dari kalangan ilmuwan Islam untuk mengetahui isi naskah itu. Pada akhirnya, jelas Dr. Pervez, ilmuwan Islam bekerja keras hinggga melahirkan terobosan intelektual.

Sayangnya, selama hampir satu milenium terakhir tidak ada yang dilakukan umat Islam. Itu ditengarai akibat matinya rasa ingin tahu, dan peradaban Islam pun jatuh. Ia juga menyesalkan bahwa dari satu milyarlebih umat Islam, tiada satu pun yang memberi sumbangsih terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. “Kita sekarang ini hanya bersifat konsumerisme,” ujarnya.

Dr. Pervez mendesak para ilmuwan Islam untuk menjauhi pola pikir terkait kontradiksi mendasar antara Islam dan ilmu pengetahuan. “Tidak peduli berapa banyak universitas yang anda bangun, berapa banyak piranti teknologi yang anda datangkan, dan jurnal penelitian makalah anda publikasikan, yang terpenting sikap kritis,” katanya.

Ada satu masa ketika peranan umat Islam dalam kemajuan ilmu pengetahuan tidak diakui oleh barat. Dr. Pervez mengungkapkan mungkin hanya beberapa yang mendapat penghargaan hingga awal abad ke-20. “George Sarton, ahli kimia Belgia merupakan salah satu dari pihak yang mengakui kehebatan ilmuwan Muslim,” tuturnya.

Pun demikian, Dr. Pervez mengatakan umat Islam tetap memiliki prestasi pada masa itu. Umat Islam memiliki hak untuk bangga memiliki Ibnu Rusyd yang sejajar dengan ilmuwan barat seperti Isaac Newton, Rene DesCartes, dan Gottfried Wilhem von Leibniz. “Ibnu Rusyd yang membawa rasionalitas ilmiah dalam fokus yang tajam sehingga ia pantas disebut bapak intelektual renaissance,” imbuhnya.

Redaktur: R.S. Permana

Copyright © 2011 – 2014 Designed & Developed by Ibrahim Vatih