Kisah Bupati Garut Nikahi ABG Selama 4 Hari

Sabtu, 1 Desember 2012 (2:40 pm) / Nasional

Bupati Garut Aceng Fikri tengah ditimpa ‘skandal’. Ia dikabarkan telah menikah lagi dengan gadis ABG asal Limbangan, Garut. Namun, sang bupati langsung menceraikannya hanya empat hari kemudian dengan alasan istri barunya itu sudah tidak perawan lagi.

Kisah yang kini menghebohkan ini terungkap ketika  orang tua mantan isteri Bupati Garut yang bernama Fany Octara itu mengadu ke Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kabupaten Garut. Mereka merasa anaknya  yang masih di bawah umur telah menjadi korban perbuatan tidak manusiawi Bupati.

Pasalnya, anaknya yang baru lulus SMA itu hanya dinikahi Bupati selama 4 hari dan langsung diceraikan begitu saja. Alasan perceraian pun sangat menyinggung harga diri. Anaknya kini mengalami trauma berat.

“Memang kita pernah kedatangan pihak orang tua korban yang mengadukan anaknya telah menjadi korban perbuatan tak menyenangkan dilakukan Bupati. Hanya dinikahi beberapa saat, dan kemudian dicerai,” kata Ketua LPA Kabupatgen Garut, Nita K Widjaya, Kamis llau.

Pihak LPA sendiri  langsung merespon dengan menemui korban di rumah orang tuanya di Desa Dunguswiru Kecamatan Balubur Limbangan untuk mengetahui kondisi korban.

Sewaktu dinikahi Bupati Garut Aceng HM Fikri pada 14 Juli 2012 secara Islam, Fany Octora masih di bawah umur karena belum genap 18 tahun. Dia merupakan gadis kelahiran 8 Oktober 1994. Dia diceraikan Bupati pada 17 Juli 2012, hanya empat hari pascadinikahi Aceng.

Belakangan Aceng Fikri pun mengakui perihal pernikahan kilat tersebut. Namun, Aceng merasa tindakannya itu tidak ada yang salah, sehingga tidak perlu meminta maaf. “Saya mau saja minta maaf. Tapi seperti bagaimana? Kalau saya ke sana, nanti kian keruh suasananya. Pokoknya saya akan selesaikan persoalan ini. Tapi nggak akan saya sebutkan. Saya punya trik untuk menyelesaikan masalah ini,” tegas Aceng kepada sejumlah wartawan di rumah dinasnya di Pamengkang Gedung Pendopo Garut, Rabu (28/11/2012).

Aceng mengaku, pihaknya sudah beritikad baik dengan memberikan sejumlah uang kepada pihak perempuan untuk berbagai keperluan. Antara lain untuk umroh, kuliah, dan kontrakan.

Aceng pun bersikukuh dirinya tidak bersalah, dan tidak melakukan kesalahan terkait perkawinannya yang hanya berumur empat hari dengan perempuan asal Kampung Cukanggaleuh Desa Dunguswiru Kecamatan Balubur Limbangan itu.

Disinggung soal tuduhan sejumlah kalangan bahwa tindakan Aceng merupakan sebuah pelecehan, Aceng malah balik bertanya. “Pelecehaan yang mana? Benar saya mengawini dia, tapi tidak sesuai dengan harapan saya. Sebagai laki-laki, wajar kan ingin yang virgin (perawan),” kata Aceng di hadapan wartawan.

Aceng pun bercerita cukup panjang lebar mengenai alasannya menceraikan Fany. Intinya, dia menuduh Fany sudah tidak perawan lagi karena pada malam pertama melakukan hubungan intim sebagai suami isteri, dia tak melihat adanya bercak darah pada seprai kasur. “Saya tahu antara yang perawan atau tidak. Sampai 3 kali saya tanya. Dia tetap mengaku perawan,” kata Aceng.

Ditanya mengenai penceraian lewat SMS, Aceng menegaskan hal itu karena dirinya tahu bila perceraian dengan SMS pun sudah dianggap sah. “Saya tahu itu sudah sah. Soal cerai, ukur heureuy ge (sekadar canda saja), sudah sah. Makanya, dengan bahasa dan etika yang baik, saya SMS,” jelasnya.

Selain itu, menurut Aceng,  pernikahan singkatnya dengan Fany itu juga atas pengetahuan anak dan istrinya, karena itu ia mengaku tidak terganggu dengan pemberitaan saat ini. “Istri saya tahu. Anak-anak saya tahu masalah ini. Saya menikah, dia tahu,” ucapnya.

Mengaku Duda

Tetapi penjelasan Aceng ini tidak singkron dengan pengakuan Fany. Gadis muda ini justru mengaku bahwa ketika melamar dirinya, Aceng mengaku tidak punya istri alias duda. Fany pun kemudian membeberkan alasannya kenapa mau dinikahi sang bupati.

Warga Kampung Cukang Galeuh, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Garut, itu baru lulus dari salah satu SMA di Sukabumi pada 2012. Dia dinikahi Bupati Aceng pada 16 Juli 2012 di rumah pribadinya di Copong, Garut.

Fani mengenal Aceng Fikri setelah diperkenalkan oleh pamannya, KH Heri Ahmad Jawani yang juga salah satu pemimpin pondok pesantren di Limbangan, Garut.

Fani mengisahkan, pamannya mendapat kabar dari salah satu pimpinan pesantren lain di Garut bahwa ada utusan bupati yang tengah mencari seorang perempuan di kalangan pesantren untuk dinikahkan dengan Bupati Aceng.

Mendengar kabar itu, Fani dan kedua orang tuanya bercerita kepada pamannya ingin melanjutkan kuliah ke kebidanan, namun kedua orang tuanya tak mampu membiayainya. Pamannya pun memberikan informasi kepada Fani bahwa bupati tengah mencari istri baru.

Sang paman menginformasikan bahwa bupati sedang mencari istri lagi, karena sang paman mengira Bupati Aceng telah bercerai dengan istri pertamanya. Akhirnya Fani beserta kedua orangtua dan keluarganya pun bertemu dengan bupati.

Menurut seorang kerabat Fani, Ujang Sunaryo, pertemuan pertama itu dilakukan di sebuah rumah makan di Limbangan, Garut. Pada pertemuan pertama itu, Fani ditemani kedua orangtua dan beberapa keluarganya. “Bupati saat itu langsung sreg dengan Fani dan ingin segera menikahinya,” kata Ujang, yang dipercaya keluarga Fani untuk memberikan keterangan kepada media.

“Saat itu, keluarga tak percaya kalau bupati telah cerai dengan istri pertamanya. Tapi bupati saat itu sampai bersumpah telah duda. Akhirnya disepakati bertemu lagi yang kedua kalinya untuk menentukan tanggal pernikahannya,” tutur Ujang Sunaryo, ditemui di rumah Fani, Kamis (29/11/2012).

Pertemuan kedua dilaksanakan di rumah makan yang sama, lanjut Ujang. Saat itu Bupati Aceng telah menyepakati pelaksanaan perkawinan di rumah pribadinya tanggal 16 Juli 2012. Pernikahan pun digelar dengan disaksikan kedua orangtua korban, petugas pencatatan nikah KUA setempat dan salah seorang ulama besar di Garut.

Redaktur: Farid Zakaria

Copyright © 2011 – 2014 Designed & Developed by Ibrahim Vatih