Partai Keadilan Sejahtera (PKS) optimistis Pemilu 2014 mendatang bakal mendulang suara berlimpah. Padahal, berbagai riset politik menempatkan partai ini jeblok dibanding hasil Pemilu 2009 lalu. Mengapa PKS tetap optimistis?

Optimisme PKS dalam menghadapi Pemilu 2014 mendatang disampaikan Ketua Fraksi PKS DPR RI Hidayat Nurwahid. Dia yakin, PKS sebagai partai Islam tetap diminati masyarakat. “Survei-survei yang pernah dirilis mengatakan bahwa partai Islam akan berakhir di pemilu 2014, belum bisa dibuktikan,” kata Hidayat di Jakarta, Kamis (4/10/2012).

  • Plus 4.000 artikel Islami, 6.000 kitab, serta nasyid walimah & jihad.
    digitalhuda.com/?f1
  • Jual Jaket Motor Respiro Anti Angin dan Anti Air Cocok dipakai Harian maupun Touring
    www.JaketRespiro.com
  • Peluang Usaha Sambil Ibadah, Perwakilan Biro Umrah-Haji Plus dan Raih Reward Ratusan Juta Rupiah.
    www.rumahhajidanumrah.com
  • Sedia Baju Hamil, Baju Menyusui, Celana Hamil, Bra Menyusui, Nursing Pillow, Nursing Apron, dll.
    www.hamil-menyusui.com
  • Pusat Belanja Buku Islam Online Lengkap Dan Murni.
    tokopedia.com/tokobukumuslim
  • Film Rasulullah Muhammad SAW, Umar bin Khattab, Nabi Yusuf, Konspirasi Dajjal Akhir Zaman.
    rubystore.wordpress.com/

Lebih lanjut Hidayat menyebutkan, banyak faktor yang tidak masuk dalam hitungan survei yang diselenggarakan oleh lembaga survei tersebut. Kendati demikian, kata Hidayat, sebagai sebuah indikator survei, hasil itu bisa dijadikan lecutan semangat dalam meningkatkan kerja-kerja partai-partai Islam Indonesia menghadapi pemilu 2014. “Tapi survei bukan satu-satunya faktor penentu dalam pemilu 2014 kelak, masih banyak faktor lain,” tambah mantan Ketua MPR ini.

Dalam berbagai riset politik, elektabilitas PKS jeblok dibanding hasil Pemilu 2009 lalu yang mencapai 7,5 persen. Riset politik Charta Politika yang digelar pada 8-22 Juli 2012 lalu menempatkan PKS hanya memperoleh dukungan responden sebesar 3,9 persen.

Riset Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menjelang jelang Pemilukada DKI Jakarta pada 7-11 September lalu juga mengungkapkan penurunan suara PKS menjadi 10,7 persen yang sebelumnya dalam Pemilu 2009 mencapai 18 persen.

Jika mencermati kondisi internal PKS belakangan, memang mengalami perubahan gerakan dibanding era 2008-2009 lalu saat mendeklarasikan diri sebagai partai terbuka.

Saat ini PKS kembali menunjukkan partai yang dekat dengan Islam. Aksi-aksi yang muncul belakangan, mengingatkan identitas PKS saat sebelum Munas PKS pada 2010 lalu di Ritz Carlton, Jakarta. Seperti respons aktif dalam tragedi Rohingya, Myanmar, respons film Innocence of Muslims serta ide mengganti logo palang merah menjadi bulan sabit.

Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Burhanuddin Muhtadi menilai memang ada upaya PKS untuk mengembalikan kepercayaan basis tradisionalnya. “PKS menyadari, pilihan partai terbuka ternyata bumerang dalam Pemilu 2009 lalu,” ujar Burhan saat dihubungi, Kamis (4/10/2012) malam.

Upaya mengembalikan dukungan basis tradisional PKS tersebut, lanjut Burhan, diwujudkan dengan aksi-aksi partai dalam merespons isu yang bersinggungan dengan Islam. “Serta memasang kembali orang-orang faksi keadilan yang relatif tidak memiliki resistensi baik di internal maupun eksternal. Seperti menempatkan Hidayat Nurwahid sebagai Ketua Frasi dan Almuzammil Yusuf sebagai Wakil Ketua Komisi III,” papar Burhan.

Apakah mujarab strategi PKS untuk meraup dukungan dari pemilih? Burhan menegaskan untuk menjawab hal tersebut harus dilakukan survei. “Yang pasti dalam survei terakhir, PKS di angka 4-5 persen,” kata Burhan.


Redaktur: Farid Zakaria
Sumber: Inilah.com

Sebarkan pada dunia: KLIK DI SINI